pattonfanatic.com

Transformasi Budaya demi Memasyarakatkan Transportasi Hijau di Indonesia

VinFast, perusahaan otomotif Vietnam berencana membangun pabrik mobil listrik di Indonesia dengan kapasitas produksi 250.000 unit per tahun.
Lihat Foto

TEKNOLOGIS di bidang otomotif, kalangan industri, pemerhati lingkungan, dan banyak kalangan lain setuju bahwa transportasi masa depan akan digerakkan oleh listrik. Hal ini muncul dari kesadaran bahwa konversi energi listrik menjadi energi gerak adalah konversi yang sangat efisien.

Motor listrik dapat dengan mudah mencapai efisiensi sebesar 90 persen, sementara motor diesel pada pembangkit listrik paling efisien adalah sekitar 50persen; selisih signifikan yang sangat berharga di era perubahan iklim ini. Lebih jauh lagi, angka efisiensi yang baik tersebut dapat dengan mudah diraih memanfaatkan teknologi yang telah ada saat ini.

Motor listrik hanya membutuhkan perawatan yang minimal, handal, tidak kompleks baik dari sisi konstruksi maupun cara pengendaliannya. Perdebatan yang terjadi saat ini berpangkal pada pertanyaan: di mana energi listrik dibangkitkan dan di mana letak penyimpanannya.

Teknologi kendaraan listrik berkembang untuk menjawab dua pertanyaan penting tersebut. Battery electric vehicle (BEV) misalnya, adalah kendaraan yang membangkitkan energi listrik di luar kendaraan dan menyimpannya dalam bentuk energi kimia dalam kendaraan.

Sementara solusi fuel cell electric vehicle (FCEV) dan hybrid vehicle (HV) adalah untuk membangkitkan listrik di dalam kendaraan dan langsung digunakan sebagai penggerak.

Dapat dikatakan bahwa era saat ini adalah era persaingan teknologi electric vehicle (EV). Uniknya, siapa yang akan jadi pemenang di masa depan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling unggul secara teknologi, tapi juga oleh solusi mana yang paling dapat diterima.

Ini artinya kita perlu melihat dari sudut pandang yang lebih luas alih-alih hanya terpaku pada sisi teknologi.

Transportasi adalah budaya dan teknologi adalah katalis yang akan memicu reaksi berantai perubahan budaya. Meskipun jalanan saat ini dikuasai oleh teknologi internal combustion engine (ICE), sejarah menunjukkan bahwa sebelum 1885, jalanan dikuasai oleh kuda dan keledai.

Baca juga: Strategi Kemenhub Dukung Penyediaan Kendaraan Listrik di Kawasan IKN 

Transisi menuju ICE adalah transisi yang berat dan makan waktu lama. Di awal, bahan bakar tidak tersedia dan mahal, jejaring industri belum terbangun, pengetahuan belum tersebar, dan lembaga keuangan belum mendukung.

Dengan kata lain, saat teknologi transportasi ICE lahir, budaya transportasi kendaraan ICE belum ada. Perlu waktu satu abad hingga budaya tersebut terbentuk dan menimbulkan efek yang masif seperti saat ini.

Dengan teliti perlu kita lihat bersama bahwa meskipun dipicu oleh teknologi yang sama, realisasi budaya transportasi di setiap kawasan berbeda. Budaya transportasi Amerika tidak sama dengan Eropa, juga dengan Asia dan Afrika. Hal ini dapat dipahami karena budaya adalah kelindan yang kompleks dari berbagai unsur kemanusiaan.

Memasyarakatkan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia memerlukan usaha memodifikasi budaya. Sudut pandang ini melahirkan pemahaman bahwa tidak ada yang bisa menjadi superhero dan dapat bermain sendiri untuk mewujudkannya.

Diperlukan agen-agen dari berbagai sektor yang menuangkan segenap perhatiannya membangun ekosistem transportasi hijau di Indonesia. Lebih dari itu, mengubah sesuatu yang telah mengakar selama satu abad menuju ke sebuah arah yang baru dalam waktu yang relatif cepat tentu memerlukan energi yang sangat besar.

Tekad pemerintah untuk menggalakkan penggunaan kendaraan listrik telah dimulai sejak tahun 2012 dengan diluncurkannya program Mobil Listrik Nasional. Saat itu, pemerintah mulai mengalirkan energi untuk mendorong perubahan budaya transportasi konvensional menuju budaya transportasi listrik.

Diawali dengan pemberian dana riset untuk perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang kemudian menjadi semakin intensif dan masif pada pemerintahan saat ini.

Pada periode kepemimpinan saat ini, pemerintah melakukan serangkaian deregulasi, penetapan payung hukum, pembebasan pajak hingga guyuran insentif sebagai manivestasi energi perubahan.

Keseriusan pemerintah periode ini nampak dari banyaknya insentif yang diluncurkan seperti PPN yang ditanggung pemerintah, Bea Balik Nama dan Pajak Kendaraan Bermotor gratis, insentif bea masuk, subsidi motor roda dua, tax holiday, insentif penelitian, bahkan hingga insentif konversi kendaraan listrik.

Namun karena besarnya energi yang dibutuhkan untuk mengubah budaya, diperlukan bantuan dari berbagai pihak. Sebesar apapun kemampuan yang dimiliki, pemerintah tidak akan mampu mengubah budaya sendirian.

Berbagai insentif yang digulirkan pemerintah menarik sektor swasta baik lokal maupun asing untuk menanamkan investasi di sektor ini. Investor Amerika, Eropa, Asia, bahkan kawasan ASEAN mengalir ke Indonesia.

Meski harus disadari bahwa kehadiran mereka berlatar belakang bisnis, namun efek alirannya tentu akan dapat dirasakan oleh bangsa.

Kehadiran mereka memberikan angin segar dalam kerangka mencukupi kebutuhan energi untuk mengubah kebiasaan bangsa dalam bertransportasi. Dalam terminologi fisika, investor memberikan energi tambahan dari luar agar sistem dapat berevolusi secara lebih cepat.

VinFast, pabrikan otomotif asal Vietnam, menjadi salah satu contoh nyata. Perusahaan ini telah menanamkan modal besar di Vietnam dengan membangun pabrik mobil listrik di Haiphong. Kesuksesan VinFast di Vietnam mendorong mereka untuk melebarkan sayapnya ke pasar internasional, termasuk Indonesia.

Perusahaan ini berencana membangun pabrik mobil listrik di Indonesia dengan kapasitas produksi 250.000 unit per tahun. Pabrik ini diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi ribuan orang dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain pabrik, VinFast juga berencana membangun jaringan diler dan stasiun pengisian daya di seluruh Indonesia. Hal ini bertujuan untuk memudahkan konsumen dalam mengakses dan menggunakan kendaraan listrik VinFast.

Investasi sektor swasta seperti yang dilakukan VinFast menjadi kunci dalam memantik pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia. Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif dari berbagai pihak, transformasi menuju era transportasi hijau di Indonesia dapat terwujud dengan lebih cepat.

Poin penting yang perlu segera mendapat perhatian kita sebagai bangsa adalah kesadaran pada pergerakan kawasan dalam menyikapi EV. Indonesia tidak pernah tertinggal dalam hal inisiatif.

Sejak dari inisiatif politik seperti Gerakan Non-Blok, pengembangan nuklir, roket, hingga kendaraan listrik, Indonesia selalu di depan. Dua belas tahun lalu, inisiasi pemerintah tentang kendaraan listrik adalah inisiasi yang mendahului zamannya untuk ukuran kawasan.

Bahkan Negeri Tirai Bambu belum melahirkan produk-produk transformatif dan inovatif yang menggetarkan Eropa dan Amerika seperti saat ini. Di tingkat pendidikan tinggi, riset masih berkutat di wilayah yang setara tentang optimasi kendali motor, bagaimana menghasilkan power pack, battery management system, dll.

Namun setelah dicanangkannya inisiasi tersebut, kawasan Asia bahkan ASEAN bergerak dengan sangat cepat.

Dalam kerangka Society 5.0 yang lahir dari kesadaran globalisasi dan perkembangan teknologi digital, kata tertinggal bukan sesuatu yang harus terlalu dikhawatirkan. Kata terasing adalah hal yang jauh lebih menakutkan.

Baca juga: Pemkot Bogor Bakal Implementasikan Penggunaan Kendaraan Listrik untuk Seluruh Moda Transportasi

Sebagai bangsa, kita perlu khawatir bila terasing dalam pergerakan kawasan yang cepat di sektor transportasi hijau ini. Dalam kerangka ini, bukan keunggulan sektoral yang perlu diutamakan melainkan bagaimana secara holistik di berbagai sektor, Indonesia sebagai bangsa, dapat berperan dalam jejaring EV kawasan.

Kendaraan listrik sebagai produk teknologi terkini memiliki keragaman dan kompleksitas tinggi namun dapat sangat terkustomisasi. Hal ini memungkinkan setiap industri membuat produk unik dan mengunci rantai pasoknya secara khusus.

Dalam kerangka investasi, meskipun banyak investor masuk ke Indonesia dan membangun industri, setiap merek cenderung membangun ekosistemnya sendiri yang saling terpisah satu dengan yang lain. Ekosistem ini akan berusaha mencukupi kebutuhannya sendiri dan melahirkan kompetisi sumber daya.

Hal ini berpeluang menimbulkan fragmentasi, pemborosan sumber daya, dan tetap membuat Indonesia sebagai bangsa terasing karena dipaksa menjadi fragmen-fragmen kecil yang saling terpisah. Pemerintah perlu jeli memperhatikan masalah investor ini. Insentif memang diperlukan untuk menarik investor.

Kehadiran mereka penting untuk menambah energi perubahan. Namun, hendaknya investor yang jelas memiliki komitmen kuat dalam membangun komunitas kendaraan listrik bangsa perlu diberikan insentif lebih. Perlakuan khusus ini penting untuk mendorong keseriusan investor.

Untuk mencegah fragmentasi agar sumber daya bangsa dapat dikelola lebih optimal, Indonesia perlu berperan aktif dalam penetapan standardisasi, terutama standaridsasi kendaraan listrik di tingkat kawasan.

Dengan standardisasi, seluruh produsen akan dipaksa untuk berkooperasi pada batas kompatibilitas tertentu; sehingga ekosistem yang diciptakan oleh masing-masing merek, pada tingkat tertentu, bisa saling berkolaborasi.

Sebagai negara dengan pasar terbesar di ASEAN, Indonesia memiliki kapasitas yang penting dalam penetapan standar ini. Hal ini termasuk bentuk penghindaran kita dari keterkucilan dalam teknologi EV di kawasan.

Dunia pendidikan memiliki peran sentral dalam memastikan peran bangsa dalam komunitas EV kawasan. Semua lembaga terkait pendidikan dan penelitian perlu menyadari bahwa inovasi dan penelitian di tingkat teknologi terkini selalu penting.

Namun agar tidak terasing di tingkat kawasan, pendidikan vokasi dan sekolah kejuruan perlu segera didorong untuk menghasilkan manusia-manusia terdidik yang mampu merawat dan membuat kendaraan listrik. Kebutuhan tenaga di sisi vokasi jauh lebih besar dibandingkan sarjana, magister, dan doktor untuk sektor EV.

Lebih dari itu, pendidikan dasar pun perlu secara transformatif meperkenalkan EV pada masyarakat tanpa harus secara formal mengubah kurikulum. Hambatan transformasi budaya berakar dari masih banyaknya kesalah pahaman tentang fenomena listrik.

Listrik masih dipahami oleh sebagian besar masyarakat sebagai hal gaib dan supranatural. Contoh, masih banyak teknisi listrik, yang notabene dididik tentang kelistrikan, memasang rajah di tangannya agar tidak tersengat listrik.

Sementara listrik sebagai wujud ilmu kontemporer lahir dari pemikiran ilmiah yang tentu saja bebas dari hal semacam itu. Ini adalah salah satu indikasi hambatan penerimaan teknologi listrik di sektor transportasi oleh masyarakat.

Sektor keuangan juga perlu bergerak secara inovatif untuk transformasi budaya transportasi ini. Salah satu hambatan psikologis dari diterimanya kendaraan listrik adalah masalah harga. Sekitar 50 persen dari harga kendaraan listrik adalah untuk membeli baterainya.

Inovasi pembiayaan dan model bisnis sangat diperlukan di sini. Tentu saja hal ini membawa risiko yang sangat besar. Sebab belum ada yang melakukan sebelumnya. Mekanisme sewa baterai misalnya, adalah sebuah mekanisme bisnis baru yang yang perlu dukungan kuat sektor keuangan.

Namun di sisi lain dari potensi risiko ada potensi profit yang luar biasa mengingat kultur dari kawasan ini adalah siapa yang memulai dia yang menguasai, sehingga lembaga keuangan pertama yang berhasil menciptakan model bisnis inovatif akan memiliki peluang untuk menguasai kawasan.

Sektor industri sendiri perlu sadar bahwa ujung tombak perubahan budaya berbasis teknologi adalah industri itu sendiri. EV sebagai produk industri lahir dari penguasaan teknologi terkini. Itu sebabnya kedekatan dunia industri Indonesia dengan dunia ilmu dan teknologi perlu didefinisikan ulang dalam kerangka perubahan budaya transportasi ini.

Meskipun banyak industri dengan nilai trilyunan rupiah, tidak banyak yang memiliki tenaga, fasilitas, serta dana penelitan dan pengembangan di Indonesia. Kedekatan industri dan peneliti dirasa hanya formalitas demi memenuhi kebutuhan administrasi.

Agar selaras dengan transformasi budaya EV, kondisi ini perlu diperbaiki. EV adalah teknologi tinggi. Sehingga industri yang jauh dari teknologi tentu secara alamiah akan tersisih.

Satu contoh yang unik adalah keberhasilan merk Jepang yang secara konsisten menjual sekitar satu juta kendaraan roda empat dan lebih dari lima juta kendaran roda dua di Indonesia selama bertahun-tahun.

Baca juga: Target 15 Juta Kendaraan Listrik pada 2030, Ini Strategi Pemerintah

Keberhasilan ini perlu dijadikan cermin dalam transformasi budaya transportasi. Telah menjadi gambaran mental sebagian besar dari kita bahwa produk mereka lahir dari penguasaan teknologi dan memiliki konsistensi serta kehandalan yang tinggi.

Bila dilihat secara cermat, dibalik teknologi dan kehandalan, produk Jepang diterima karena secara halus di balik layar, produk mereka hadir dengan pemahaman budaya setempat yang baik.

Wawasan ini membuka kesadaran bahwa pemahaman budaya kawasan adalah sarana penting agar tidak terasing dari budaya baru transportasi kendaraan listrik di kawasan (setidaknya ASEAN).

Kedekatan budaya kawasan akan memudahkan interaksi, berkomunikasi bahkan dapat dilakukan hingga tingkat gestur, berbisnis, hingga menentukan model kendaraan yang sesuai.

Kemudahan ini tidak akan mudah dilakukan untuk kawasan yang terlalu luas. Contoh, ada sedikit perbedaan selera desain antara Indonesia dengan India. Juga ada hambatan persepsi untuk kendaraan dari Tiongkok. Ini artinya, penguatan jejaring kawasan menjadi sangat penting. Di masa S5.0 ini, tidak ada satu negarapun yang bisa tampil sendiri.

Di ujung dari semua itu, sebagai dirigen, pemerintah sangat penting untuk hadir merangkum dan memfasilitasi. Pemerintah yang muncul dalam satu kesatuan utuh tak akan terpisah oleh sekat antar sektor.

Selain itu, pembangunan industri EV memerlukan pemerintahan yang konsisten dan tidak mudah berubah mengikuti pergantian pimpinan. Transformasi budaya memerlukan keutuhan dan konsistensi.

Peta jalan merupakan sarana yang dapat menjaga keutuhan dan konsistensi bangsa dalam kerangka transformasi budaya transportasi EV. Sangat disayangkan bahwa banyak pihak memandang peta jalan sebagai kebutuhan administratif alih-alih substansial.

Dengan peta jalan yang baik, semua langkah dapat dikoordinasikan, ditentukan jadwalnya, kebutuhan sumber dayanya, siapa pelaksananya, hingga indikator keberhasilannya. Dengan peta jalan yang baik dan terkoordinasi, insentif dapat diberikan pada waktu yang tepat, ukuran yang tepat, untuk pihak yang tepat, dan dilakukan oleh pihak yang tepat dengan koordinasi lintas bidang yang baik.

Baca juga: Target 15 Juta Kendaraan Listrik pada 2030, Ini Strategi Pemerintah

Hal ini selaras dengan teorema sistem yang menyatakan bahwa memasukkan energi secara acak dengan magnitudo dan fase yang tidak selaras hanya akan menghasilkan derau alih-alih hasil yang konstruktif.

Penyusunan dan pelaksanaan peta jalan elektrifikasi transportasi oleh pemerintah secara konsiten dan utuh adalah kunci keberhasilan tranformasi budaya transportasi EV.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat