pattonfanatic.com

Potensi Ekonomi Masyarakat Miskin di Kota

Pekerja menyortir ikan di pusat pengolahan ikan, Muara Angke, Jakarta Utara, Kamis (22/10/2020). Harga sejumlah komoditas ikan asin beranjak naik karena pasokan menurun dan ditambah datangnya musim hujan yang memperlama waktu penjemuran ikan.
Lihat Foto

HAMPIR dapat dipastikan bahwa setiap pembicaraan tentang masyarakat miskin di kota sering dikaitkan dengan kekumuhan dan sektor informal.

Dengan kata lain, potensi ekonomi mereka lemah dan kurang mempunyai kemampuan untuk memperbaiki kondisi dan lingkungan hidup.

Ada kecenderungan mereka pasrah serta apatis menghadapi masa depan dan menyerah pada nasib.

Oleh karena itu, dalam perencanaan penataan ruang perkotaan, keberadaan mereka cenderung diabaikan, sehingga kepentingan mereka sering dikorbankan untuk kepentingan masyarakat kota lain.

Pandangan di atas tidak selamanya benar dan perlu ditinjau kembali. Beberapa studi mengungkapkan bahwa kaum miskin di kota bekerja keras, mempunyai aspirasi tentang kehidupan yang baik dan motivasi untuk memperbaiki nasib.

Upaya yang mereka lakukan adalah menciptakan pekerjaan sendiri dan berusaha memperbaiki nasib dengan berupaya beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Golongan miskin mempunyai potensi ekonomi dan tidak selamanya miskin. Meskipun sebagian besar mencari nafkah di sektor informal, penghasilan keluarga mereka tidak jauh berbeda dengan kelompok bawah pekerja sektor formal.

Atas dasar pandangan ini, maka potensi ekonomi mereka perlu dipertimbangkan dalam proses pembangunan perkotaan.

Kesempatan kerja sektor informal

Konsep sektor informal pertama kali digunakan oleh Keith Hart dalam penelitian di suatu kota di Ghana. Kemudian konsep sektor informal dikembangkan oleh ILO dalam berbagai penelitian di Dunia Ketiga.

Konsep itu digunakan sebagai penjelas proses kemiskinan di Dunia Ketiga dalam hubungannya dengan pengangguran, migrasi, dan urbanisasi.

Dalam kurun waktu terakhir ini, sektor informal di daerah perkotaan Indonesia menunjukkan pertumbuhan pesat.

Menurut para ahli, membengkaknya sektor informal mempunyai kaitan dengan menurunnya kemampuan sektor formal dalam menyerap pertambahan angkatan kerja di kota.

Sedangkan pertambahan angkatan kerja di kota, sebagai akibat migrasi desa-kota, lebih pesat daripada pertumbuhan kesempatan kerja.

Akibatnya, terjadi pengangguran, terutama di kalangan penduduk usia muda dan terdidik yang diikuti dengan membengkaknya sektor informal di kota.

Munculnya sektor informal juga karena beberapa sebab, seperti sektor formal yang tidak mampu menampung angkatan kerja, tidak terjangkaunya harga pada barang dan jasa di sektor formal oleh masyarakat, pendirian usaha di sektor formal yang memerlukan biaya tinggi, izin usaha berbelit-belit, tidak membutuhkan keahlian dan keterampilan yang tinggi dan urbanisasi (Manning, 1991).

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat