pattonfanatic.com

BPR Perlu Percepatan Digitalisasi untuk Hadapi Tantangan Global

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2024, Selasa (20/2/2024).
Lihat Foto

JAKARTA, - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, industri bank perekonomian rakyat (BPR) akan berhadapan dengan tantangan tren digitalisasi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan, pada dasarnya industri BPR baik konvensional maupun syariah akan selalu dihadapkan pada tantangan, baik eksternal maupun tantangan struktural yang bersumber dari internal.

"Dalam jangka pendek, dinamika global dan tren digitalisasi masih akan menjadi tantangan global yang berpengaruh terhadap pengembangan BPR ke depan," kata dia dalam keterangan resmi, ditulis Selasa (18/6/2024).

Baca juga: Tujuh Tips Bijak Menggunakan Produk Deposito di BPR

Untuk itu, pemberlakuan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) akan memberi penguatan yang tidak dimiliki oleh BPR sebelumnya.

Menurut Dian, akselerasi digitalisasi produk dan layanan merupakan salah satu upaya dalam mendorong BPR untuk memiliki daya saing dengan lembaga jasa keuangan lainnya.

Akselerasi digitalisasi juga memungkinkan BPR membangun sinergi dengan lembaga jasa keuangan lainnya terutama terkait pengembangan produk dan layanan.

OJK telah menerbitkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan BPR pada 2024. Pilar kedua dalam peta jalan itu yaitu akselerasi digitalisasi BPR. Pilar kedua ini merupakan sebagai salah satu upaya peningkatan efisiensi, integritas, serta daya saing melalui pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan bisnis dan operasional BPR.

Baca juga: OJK Tegaskan Akan Tutup BPR yang Fraud

Lebih lanjut, Dian bilang, pemanfaatan teknologi informasi (TI) merupakan hal yang tidak terelakkan di era digital saat ini.

"Pemanfaatan TI tersebut dapat dilakukan baik pada sisi operasional dan kegiatan bisnis, serta perlu didukung dengan kualitas SDM maupun ketersediaan infrastruktur TI itu sendiri," tandas Dian.

Sebagai informasi, data OJK menunjukkan sampai Maret 2024 terdapat 1.392 BPR dan 174 BPRS. Sementara itu total aset BPR dan BPRS tercatat senilai Rp 216,73 triliun sampai kuartal I-2024, atau tumbuh 7,34 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: OJK Terbitkan Pedoman Kerja Sama BPR Syariah dan Fintech Financing

Kemudian, penyaluran kredit dan pembiayaan industri BPR dan BPRS tercatat senilai Rp 161,90 triliun, atau tumbuh 9,42 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, pada kuartal pertama 2024 penghimpun dana pihak ketiga (DPK) industri ini senilai Rp 158,8 triliun, atau tumbuh 8,60 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: Agar Tak Rontok, BPR Harus Jalankan Digitalisasi dan Modernisasi

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat