pattonfanatic.com

OJK Sebut Kredit Produktif Korporasi Melesat, Ini Penyebabnya

Ilustrasi kredit, kredit perbankan.
Lihat Foto

JAKARTA, - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan, pertumbuhan kredit produktif non-UMKM relatif tinggi sampai April 2024.

Penyaluran kredit produktif non-UMKM tumbuh 18,45 persen secara tahunan atau year-on-year pada periode tersebut.

Hal ini terutama dipengaruhi oleh tingginya permintaan kredit oleh korporasi swasta.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan, normalisasi harga komoditas dan kembali pulihnya kegiatan masyarakat menyebabkan dana internal perusahaan menurun.

"Sehingga korporasi kembali memerlukan pendanaan dari eksternal," kata dia dalam keterangan resmi, ditulis Kamis (20/6/2024).

Baca juga: OJK Sebut Porsi Pembiayaan Bank Lewat Fintech Lending Masih Rendah

Di sisi lain, Dian menambahkan, kebijakan moneter global yang ketat dan ketidakjelasan penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat, atau higher for longer, serta penguatan dollar AS, menyebabkan tingginya imbal hasil (yield) obligasi korporasi dan biaya refinancing perusahaan.

Sementara itu, Dian menyebut, suku bunga kredit perbankan domestik yang cenderung stabil. Dengan demikian, korporasi lebih memilih pendanaan dari perbankan domestik.

"Sehingga permintaan kredit perbankan oleh korporasi swasta meningkat," ujar dia.

Baca juga: OJK Sebut Kredit Macet Perbankan Turun Setelah Pandemi


Sebagai informasi, OJK mencatat penyaluran kredit perbankan senilai Rp 7.310,7 triliun sampai April 2024. Angka tersebut tumbuh 13,09 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Adapun, penyaluran kredit ini tumbuh Rp 66,05 triliun, atau 0,91 persen secara bulanan.

Sementara itu, kualitas kredit yang tercermin dalam rasio non performing loan (NPL) gross perbankan ada di level 2,33 persen dan NPL net sebesar 0,81 persen per April 2024.

Khusus untuk sektor UMKM, NPL gross tercatat 4,26 persen dan NPL net 1,54 persen pada periode yang sama.

Walaupun demikian, perbankan telah mengantisipasi kenaikan NPL UMKM tersebut dengan membentuk CKPN kredit UMKM sebesar Rp 85,5 triliun dan perbandingan antara total CKPN UMKM terhadap total NPL UMKM mencapai sebesar 137,37 persen.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat