pattonfanatic.com

Asosiasi Sebut Kenaikan Cukai Hasil Tembakau Berpotensi Bikin Rokok Ilegal Marak

Ilustrasi rokok.
Lihat Foto

JAKARTA, - Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) menyatakan rencana kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) 2025 serta penyederhanaan (simplifikasi) tarif memicu meningkatnya peredaran rokok ilegal di pasaran.

Dikutip dari Antara, Kamis (20/6/2024), Ketua umum GAPPRI Henry Najoan di Jakarta, Kamis menyatakan merujuk hasil kajian resmi Kementerian Keuangan, produksi rokok ilegal mencapai 7 persen dari total rokok di Indonesia per tahun, maraknya rokok ilegal itu seiring dengan penurunan produksi rokok.

Menurut dia jumlah rokok ilegal yang beredar disinyalir jauh lebih banyak dari kajian yang dilaporkan sehingga potensi kerugian negara akibat rokok ilegal cukup besar, apabila acuannya adalah pendapatan cukai.

Baca juga: Soal Kenaikan Tarif Cukai, Pelaku Usaha Keluhkan Rokok Ilegal

Ilustrasi rokok, iklan rokok di media sosial.SHUTTERSTOCK/RISTOFORESCAN Ilustrasi rokok, iklan rokok di media sosial.

"Kebijakan menaikkan CHT tiap tahun, akan meningkatkan peredaran rokok ilegal. Kerugian negara juga makin besar," kata Henry dalam keterangannya.

Dikatakannya, kenaikan tarif CHT selama 4 tahun terakhir telah memengaruhi kinerja lndustri Hasil Tembakau (lHT) yang mana berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pada 2020, volume produksi sebesar 291,70 miliar batang, kemudian pada 2021 naik menjadi 334,84 miliar batang.

Namun kembali turun berturut-turut di 2022 menjadi 323,88 miliar batang dan 2023 sebesar 318,14 miliar batang.

Volume produksi tersebut tak dapat menjangkau level pra-pandemi tahun 2019 sebesar 355,90 miliar batang.

Baca juga: Bea Cukai Lhokseumawe Sita 298.000 Batang Rokok Ilegal di Aceh Utara

"Sejak tahun 2020 sampai tahun 2023, produksi pabrik golongan I telah turun sebanyak 101,51 miliar batang dan secara total produksi telah turun 38,35 miliar batang. Terindikasi konsumsi produk pabrik golongan I yang legal telah tersisa 62,8 persen dibanding konsumsi tahun 2019," terang Henry.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat