pattonfanatic.com

AS Mau Kembangkan Kendaraan Listrik, Luhut: Mustahil Bisa Tanpa Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan pandangannya dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (5/6/2024). Raker yang juga diikuti Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) dan Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan tersebut membahas rencana kerja dan anggaran tiga Kemenko pada 2025. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.
Lihat Foto

 

JAKARTA, - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim Amerika Serikat (AS) tidak bisa mengembangkan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) tanpa Indonesia.

Sementara kata Luhut, Negeri Paman Sam menargetkan produksi kendaraan listrik di negaranya dapat meningkat sebelas kali lipat pada 2030.

Dia mengungkapkan, Indonesia memegang peranan penting dalam produksi kendaraan listrik dimana negara ini menguasai hampir 70 persen pasokan bijih nikel dunia.

Baca juga: OJK Dorong Penerbitan Ketentuan Baku Asuransi Kendaraan Listrik

Ilustrasi mobil listrik, kendaraan listrik. SHUTTERSTOCK/MIKE FLIPPO Ilustrasi mobil listrik, kendaraan listrik.

Adapun bijih nikel merupakan salah satu bahan penting dalam pembuatan baterai lithium untuk kendaraan listrik.

"Ini saya sampaikan juga kepada teman-teman saya di Amerika. Saya katakan, "impossible kalian bisa meningkatkan 11 kali dari apa yang ada sekarang tanpa Indonesia" karena Indonesia kontrol mungkin lebih dari atau dekat 70 persen daripada nikel ore dunia," ujarnya saat acara MINDialogue di The Energy Building, Jakarta, Kamis (20/6/2024).

Luhut mengatakan, nilai ekspor bijih nikel yang sudah diolah atau diberikan nilai tambah bisa mencapai 70 miliar dollar AS pada 2030.

Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu yang hampir mencapai 40 miliar dollar AS.

Baca juga: PLN Mau Bikin 2.000 Tiang Listrik Jadi Charger Kendaraan Listrik

"Di ASEAN itu Indonesia yang terbesar di sana dan kita yang paling kaya di sana. Kita bersyukur kita sudah melakukan downstreaming beberapa tahun dan itu sudah kita lihat buahnya," ucapnya.

Selain itu, AS juga tertinggal jauh dari China dalam hal pengembangan teknologi smelter. Bahkan sekalipun AS memiliki modal yang besar untuk mengejar ketertinggalan itu, tidak akan bisa menyaingi teknologi smelter China.

Faktor ini semakin memperkuat kebutuhan AS akan Indonesia untuk meningkatkan produksi kendaraan listrik di negaranya.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat