pattonfanatic.com

Gaikindo Sebut Aturan OJK Jadi Salah Satu Penyebab Penjualan Mobil Turun

Ilustrasi Mobil Baru
Lihat Foto

JAKARTA, - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkapkan, aturan OJK memiliki andil dalam anjloknya penjualan mobil pada semester pertama tahun ini.

Adapun beleid yang dimaksud adalah Peraturan OJK Nomor 22 Tahun 2023 tentang Perlindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan.

"Jelang akhir 2023, OJK mengeluarkan POJK No. 22 Tahun 2023. Intinya kendaraan yang mengalami kesulitan cicilan kredit tidak boleh ditelepon setelah pukul 19.00 dan hari libur. Dampaknya pembelian kendaraan semakin turun pada Januari 2024," ujar Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara dalam Diskusi Solusi Mengatasi Stagnasi Pasar Mobil, Jakarta, Rabu (10/7/2024).

Baca juga: Pangsa Pasar Mobil Turun, Ini Kata Astra International

Lebih lanjut Kukuh mengungkapkan, berdasarkan data yang dimilikinya, per Mei 2024, penjualan mobil turun 21 persen menjadi 334.000 unit.

Hal ini dipicu berbagai faktor, antara lain kenaikan suku bunga global, lonjakan NPL, pengetatan pemberian kredit dari perusahaan pembiayaan.

Gaikindo kemungkinan merevisi target penjualan mobil 2024 sebanyak 1,1 juta unit, dengan mempertimbangkan sejumlah faktor penekan pasar.

“Salah satu faktor pemicu stagnasi pasar mobil adalah harga mobil baru tidak terjangkau oleh pendapatan per kapita masyarakat. Gap antara pendapatan rumah tangga dan harga mobil baru makin lebar,” kata dia.

Kukuh menilai, pertumbuhan ekonomi nasional mau tak mau harus dinaikkan menjadi 6-7 persen per tahun agar Indonesia keluar dari jebakan 1 juta unit pasar mobil domestik.

Dengan begini, pendapatan per kapita dapat naik 5 persen hingga 6 persen per tahun, mendorong kelompok upper middle naik kelas ke affluent income group sehingga mendorong penjualan otomotif keluar dari jebakan 1 juta unit.

Baca juga: Indonesia Kuasai Pasar Mobil ASEAN Mei 2024, Malaysia Kedua


Senada, Pengamat Otomotif LPEM UI Riyanto mengatakan, pasar mobil domestik rata-rata tumbuh 21,3 persen selama 2000-2013, ditopang oleh kenaikan pendapatan per kapita sebesar 28,2 persen. Sementara itu, selama 2013-2022, pendapatan per kapita hanya naik 3,65 persen, sehingga pasar mobil turun rata-rata 1,64 persen per tahun.

Sementara di sisi lain, harga mobil terus membubung. Sebagai contoh, harga Avanza G pada 2013 mencapai Rp 160 juta, sedangkan pada 2023 mencapai Rp 255 juta. "Dengan demikian, pertumbuhan pendapatan per kapita tidak bisa menjangkau harga mobil baru. Bahkan, selisihnya makin lebar dari tahun ke tahun," ungkap Riyanto.

Imbasnya, dia menuturkan, penjualan mobil bekas tumbuh subur menjadi 1,4 juta unit pada 2023, dari 2013 yang hanya 0,5 juta unit, seiring menurunnya daya beli konsumen dan lonjakan harga mobil baru."Itu artinya, penjualan mobil bekas tahun lalu di atas mobil baru yang hanya 1 juta unit," jelas dia.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat